March 25, 2008
Yang saya maksud dengan membaca di sini bukanlah membaca tingkat tinggi macam membaca novel intelek a la Deception Pointnya Dan Brown apalagi literature karya Leo Tolstoy dan William Shakespeare. Itu jelas susah dan berat. Membaca yang saya maksud adalah membaca kata/frase/kalimat atau peringatan yang sering tertera di formulir, muncul di monitor komputer, atau tertempel di kaca pintu/jendela. Misalnya stiker bertuliskan: Awas anjing galak! Bukan hal yang sulit untuk dibaca bahkan dimengerti, kan?
Membaca hal-hal kecil seperti ini terlihat cukup sepele hingga mungkin sudah tidak masuk kategori membaca lagi. Padahal…?
10 Comments |
Ngalor-ngidul | Tagged: awas anjing galak, Dan Brown, Leo Tolstoy, literature, membaca, stress, William Shakespeare |
Permalink
Posted by ian
March 20, 2008
Masih teringat kedongkolan di hati saat bis kota yang saya tumpangi selalu ngetem (entah beginikah tulisannya) di terminal. Belum lagi sang sopir biasanya menyempatkan diri untuk makan di warteg kesayangan sembari mempersilahkan pengamen langganan mengisi time slot yang ada.
“Ayo naik sini, Mas!” ajak sang sopir penuh semangat.
“Sudah mau berangkat ya, Pak?” saya kegirangan karena tak harus menunggu bis lain.
“Ya, ayo ayo cepetan!”
Begitulah percakapan yang membuat saya memutuskan untuk naik bis kota tersebut. Dan saya pun duduk di dalam bisa kota itu, disusul kemudian oleh beberapa orang penumpang. Bis kota sudah hampir penuh dan sang sopir entah berada di mana. Saya tak kuasa menahan kejengkelan demi melihat bis-bis lain yang sudah mulai tancap gas. Tapi tak apalah saya berikan toleransi beberapa menit lagi. Toh, belum tentu saya mendapat bis lain yang siap jalan jika saya meninggalkan bis yang mesinnya masih dingin ini. Beberapa saat kemudian sang sopir baru mematikan rokoknya dan mulai menghidupkan mesin. Damn. Sejak usaha marketing sang sopir pertama kali sampai bis akhirnya berjalan sudah menghabiskan waktu sekitar 15 menit sendiri. Saya baru mengerti ini yang dimaksud sudah-mau-berangkat. Lain kali cari bis dengan status tinggal-injak-pedal-gas. Untungnya ada ratusan bis lain dengan trayek yang sama.
Pertama kali harus pergi ke kampus menggunakan bis kota di daerah metropolitan Washington D.C., saya cukup terkejut. Kenapa?
2 Comments |
Bincang, Bisnis, Etika, Sosial | Tagged: ngaret, pseudo-schedule, Ride On, Teks Indonesia |
Permalink
Posted by ian
March 15, 2008
“Again out of destruction a new spirit of creativity arises” (Wikipedia - kutipan dari Krieg und Kapitalismus (War and Capitalism) (1913, p. 207) oleh Werner Sombart’s).
Istilah yang kemudian dipopulerkan lagi oleh Joseph Schumpeter ini dikenal luas di dunia ekonomi. Ia mengatakan bahwa kekuatan sebuah sistem ekonomi itu terletak pada kreatifias individu yang kemungkinan bisa mengancam keberadaan pemain-pemain besar yang sudah mapan. Contoh gampangnya: di teknologi dunia rekaman 8-track diganti kaset, lalu muncul CD, lalu sekarang didominasi oleh teknologi mp3. Intinya, creative destruction adalah suatu evolusi yang tidak bisa dihindari. Pasti terjadi, hanya masalah waktu.
Lantas, apa hubungannya creative destruction dengan dunia musik Indonesia? Read the rest of this entry »
4 Comments |
Bisnis, Fenomena, Sosial | Tagged: Akademi Fantasi Indosiar, Bubble Marketing, Creative Destruction, Dotcom crash, Hermawan Kartajaya, Indonesian Idol, JYPE, reshuffle kabinet, Sustainable Marketing |
Permalink
Posted by ian
March 11, 2008
Disclaimer: If you sense some negative qualities about Indonesian people in this post, it doesn’t mean that I hate Indonesians nor I hate being an Indonesian. It’s the quite the opposite. And If I write this entry in English, it doesn’t mean I don’t like to write in Indonesian, either.
Tasa, or the more well known in the blogging world as Guebukanmonyet, wrote the article proudly published on the Jakarta Post titled It’s the Indonesian factor in our blood. It is a delightful and enlightening article that can boost our Indonesian pride. It, indeed, is the Indonesian factor in our blood that made us what we are. There is a lot to be proud of, yet a long list of questionable qualities we need to work on should balance our pride with a caution. It is because there’s something about us.
Have you ever joined a Find out!
19 Comments |
Fenomena | Tagged: accent, bahasa Indonesia, bule, pertanggungjawaban, rapat |
Permalink
Posted by ian
February 18, 2008
Akhirnya…ada juga yang mau ribet-ribet login, nulis entri, dan membalas komentar di blog di tengah-tengah jadwal yang padat, badan letih, pikiran penat, dan sejuta kesibukan dan alasan lain yang membuat orang jadi malas. Siapa mereka?
8 Comments |
Fenomena, Hiburan | Tagged: blog artis, Dian Sastro, Maia Estianti, Wulan Guritno |
Permalink
Posted by ian